Minggu, 06 Mei 2012

BATIK GEBLEK RENTENG KARYA ALES CANDRA WIBAWA SENTOLO JUARA LOMBA DESAIN MOTIF BATIK KHAS KULONPROGO

Bupati dan Wabup melihat hasil karya juara pertama Lomba Desain Batik Khas Kulonprogo

WATES (KR radio) Desain motif batik dengan judul Geblek Renteng karya Ales Candra Wibawa (16) warga pedukuhan Dlaban Rt 08 Rw 04 Sentolo, Kulonprogo meraih juara pertama dalam Lomba Desain Motif Batik khas Kulonprogo berdasarkan penilaian Panitia Lomba Desain Motif Batik Khas Kulonprogo tahun, Minggu (6/5).

Sedangkan lima nominator yang masuk masing-masing karya Agus Tri Cahyono Jl. Mojo 34, Baciro Yogyakarta dengan judul Kulonprogo Binangun, Ariswan Adhitama, S.Sn dari Beteng Rt 64 Rw 16 Jatimulyo, Girimulyo dengan tema Batik Angguk Putri Kulonprogo, Marsidah, S.Pd dari Kersan Rt 03 Timbulharjo Sewon Bantul judul Manggis Galar, Prosida Triwahyunisih Jl. Jepara 250 Prambatan Lor, Kudus, Jawa Tengah dengan Batik Ceplok Kulon Progo dan Sudaryono dari Tukharjo, Purwoharjo, Samigaluh dengan karyanya yang berjudul Geblek.
Masing-masing pemenang mendapatkan hadiah dari Panitia dengan total hadiah Rp. 25 juta, untuk juara pertama berhak memperoleh uang penghargaan sebesar Rp. 15 juta dan lima nominator masing-masing memperoleh Rp. 2 juta dan piagam.
Ketua umum Panitia Lomba, dr. Hj. Dwikisworo Setyowireni, Sp.A(K) mengatakan setelah menjalani proses yang cukup panjang, hingga penutupan pendaftaran karya batik yang masuk mencapai 392 dari 304 peserta masing-masing dari Kulonprogo 142, Bantul 43, Sleman 28, Kota Yogyakarta 36, Jawa tengah 37, Jawa Timur 9, Jawa barat 5, Jakarta 1, dan  luar Jawa 3 peserta.
“Dari jumlah tersebut akhirnya Dewan Juri yang terdiri tiga orang masing-masing Drs. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum, dosen ISI dan pengamat Batik yang kelahiran Kokap, Dra. Djandjang Purwo Sedjati, M.Hum, pengajar ISI dan Nita Azhar seorang disainer Batik dari Sekar Jagad, pada tahap pertama melakukan seleksi dan lolos 20 karya, hasil tersebut kemudian diseleksi lagi untuk menentukan 6 nominasi karya batik terbaik, semuanya bagus-bagus,”terang dr. Reni yang sekaligus Ketua Tim Penggerak PKK.
Dalam menentukan yang terbaik untuk menjadi juara pertama menurut dr. Reni sapaan akrabnya, ketiga tim juri meski telah banyak melakukan penilaian karya batik sempat kebingungan karena saking bagusnya semua karya dan orisinil, namun dengan dasar utama mencari ciri motif khas Kulonporogo sehingga mengerucut beberapa karya, meskipun akhirnya keputusan akhirpun sempat melibatkan opini pengrajin batik.
“Awalnya semua juri bingung juga menentukan yang terbaik, tapi karena kita cari motif yang khas Kulonprogo mereka bertiga terbebas dari kebingungan yang luar biasa, banyak yang bagus tapi tidak mengambarkan Kulonprogo sehingga tidak masuk kriteria,  lalu ada beberapa pertimbangan, seperti apa kemungkinan kalau diproduksi, mudah motifnya kalau bisa menghindari batik printing artinya mengutamakan para perajin,”terang Reni yang sehari-hari bekerja di Bagian Anak RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta.
Bupati Kulonprogo dr. H. Hasto Wardoyo,Sp.OG(K) berharap proses ini menjadi sesuatu yang bermakna sangat dalam atau sakral tentang sejarah lahirnya Batik di Kulonprogo, sehingga semua kegiatan dapat di abadikan dan dokumentasikan dengan baik dan tidak boleh hilang, termasuk ada berita acaranya, siapa jurinya, dan dibukukan semua karya yang luar biasa, kemudian diberikan kepada yang berpartisipasi sebagai umpan balik.
“Saya berharap proses ini menjadi catatan penting tentang sejarah batik suatu daerah berupa  batik khas Kulonprogo, menjadi sesuatu yang sakral, sehingga mohon diabadikan semua proses, didokumentasikan, dibukukan semua karya dan semua peserta diberi sebagai umpan balik partisipasi kegiatan ini,”pinta Hasto.
Hasto yang sejak awal memunculkan gagasan ini menambahkan sebenarnya batasan dalam lomba  batik tidak mutlak pada ciri khas motif Kulonprogo, namun  faktor lainnya motif yang digemari  banyak orang bahkan menarik dipasarkan di negara lain  atau marketable, sedangkan unsur warna tidak harus menjadi pengikat atau border yang kuat tetapi yang penting coraknya. Karena dalam seragam nantinya, warna untuk seragam siswa SD, SMP atau siswa SLTA tentu akan sangat berbeda dengan seragam para PNS.
“Sejarah boleh berubah sehingga nominasi boleh bergeser artinya kalo toh masternya geblek renteng tapi dibawah boleh jadi produk secondari sehingga kalau ada event-event tertentu maka produknya mengacu tidak harus yang juara pertama atau master bisa yang dibawahnya sesuai kebutuhannya,”pinta Hasto.
Menurut Kadinas Kebudayaan Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Budparpora) Eko Wisnu Wardhana, SE, setelah diumumkan, segera akan dilakukan proses pembatikan dari desain hasil karya pemenang utama ke kain oleh pengrajin batik Kulonprogo. Kemudian pada tanggal (25/5) mendatang bertempat di obyek wisata Boro Asri Menoreh, desa Banjarasri Kecamatan Kalibawang akan dilaunching sekaligus penyerahan hadiah juara utama dan nominator bersamaan dengan Festival Kesenian Rakyat Kulonprogo.
“Hasil karya yang ditetapkan sebagai juara pertama lomba ini nantinya digunakan sebagai identitas bagi warga Kulonprogo, khususnya PNS dan siswa sebagai seragam dinas dan sekolah, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya pengrajin batik dan penjahit, karena akan banyak permintaan terhadap produk mereka,”terang Eko. (dani wibisono)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar